Setiap orang tentu ingin sukses atau berhasil dalam hidupnya, pada bidangnya masing-masing. Mereka ingin segala harapannya tercapai dan terwujud nyata. Keberhasilan hanya dapat diraih dengan usaha atau ikhtiar keras dan sungguh-sungguh dengan diiringi doa.
Dalam ikhtiar ini, seseorang perlu sabar menjalani setiap prosesnya. Alquran menyebutkan bahwa sabar adalah salah satu bentuk meminta tolong kepada Allah SWT selain shalat, “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.” (QS al-Baqarah [2]: 45).
Dalam hadisnya, Nabi SAW bahkan mengatakan, sabar adalah bagian dari iman, “Sabar adalah setengah dari iman dan keyakinan adalah seluruh keimanan.” (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi). Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab al-Fawa’id menegaskan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.”
Ikhtiar adalah kewajiban manusia, sementara Allah SWT yang menentukan takdirnya. Manusia tidak pernah tahu takdirnya dan karena itu mesti terus berikthiar untuk menemukan dan menjalani takdirnya itu sampai akhir hayat.
Ketika dalam proses ikhtiar ini ada sesuatu yang manusia rasakan sulit atau ia anggap merugikannya, pada hakikatnya itu adalah ujian sementara yang mesti disikapi dengan sabar; menahan diri sejenak untuk memikirkan permasalahan yang dihadapi dengan pikiran dan hati yang jernih, mencari solusinya, kemudian berikhtiar lagi dengan cara-cara lain yang lebih baik. Karena, seperti dikatakan Allah SWT, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’d [13]: 11)
Sabar dalam hal ini, seperti dikatakan Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin, termasuk bentuk sabar dalam ketaatan kepada Allah. Ikthiar itu sendiri merupakan bentuk ketaatan kepada Allah karena itu adalah kewajiban dari Allah yang dibebankan kepada setiap manusia.
Al-Ghazali mengatakan, sabar dalam ketaatan yaitu melaksanakan tugas atau kewajiban dengan ikhlas, tidak menggerutu atau mengeluh saat menghadapi kesulitan di dalamnya. Namun, apabila seseorang berkeluh kesah saat melaksanakannya, maka yang demikian itu belum termasuk sabar, terutama dalam hal beribadah kepada Allah SWT. Ibnu Abbas pernah mengatakan, “Sabar dalam menjalankan kewajiban Allah pahalanya 300 derajat.”
Sabar adalah sikap paling baik dalam menghadapi setiap masalah atau ujian. Nabi SAW mengatakan, “Siapa saja yang bersabar maka Allah akan menjadikan dirinya penyabar, dan tiada pemberian yang Allah berikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas manfaatnya daripada kesabaran.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Allah pun memuji orang yang sabar, yang pantang menyerah dalam menjalani setiap kesulitan, “Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS Ali ‘Imran [3]: 146).
Sabar adalah sikap yang baik dalam ikhtiar manusia, bahkan dalam segala hal, baik itu yang manusia nilai sebagai sesuatu yang menguntungkan atau merugikan. Selalu ada keajaiban dan jalan keluar yang didapatkan orang yang sabar. Terkadang itu muncul pada saat yang tak ia duga-duga.
Selama seseorang bersabar, kebaikan akan selalu ia dapatkan. Nabi SAW menegaskan, “Sungguh menakjubkan urusan orang Mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapatkan kelapangan maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Bila ditimpa kesempitan maka dia bersabar dan itu kebaikan baginya.” (HR Muslim). Wallahu a’lam.
31 Desember 2018
#cuma Alloh penolong sesungguhnya
Jangan pake ragu.. #Yaqinin
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Dan mintalah pertolongan kpd Alloh dg sabar dan dg mengerjakan sholat.(Qs.2:45) Sesungguhnya sholat itu amatlah berat kecuali bagi orang2 yg khusyuk.
اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ
“Jagalah hak Alloh maka Alloh akan jaga dirimu
.(HR.Imam At-Tirmidzi)
Oleh karena itu, ketika kita mendapatkan berita kurang baik.. atau sedang ingin sesuatu.. #segeralah ambil air wudhu lalu bertakbiratul ihramlah dan sholatlah laksanakan Allah.
Ibnu Abbas pernah berjalan disebuah jalan,
lalu ada orang yg menghampirinya dan memberitahukan bahwa saudaranya telah meninggal dunia. Apa yang dilakukan beliau?
Beliau langsung menepi dan beliau langsung sholat 2 raka’at lalu beliau memanjangkan sholat nya berdoa kpd Alloh. bersimpuh kpd Alloh lalu beliau mengucapkan salam beliau kembali ke tunggangannya dan beliau berjalan sambil membaca Al Baqarah ayat 45 syrat al Baqoroh
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاة
“Mintalah pertolongan kpd Alloh swt dg kesabaran dan dg mengerjakan sholat.”
Ini juga yg dilakukan oleh ummu Kultsum ketika melihat suami tercintanya Abdurahman bin ‘Auf itu pingsan dan beliau khawatir luar biasa. Apa yg beliau lakukan ? Allohu Akbar, beliau langsung pergi ke masjid dan mengerjakan 2 raka’at mengingat Allah, dg FirmanNYA
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاة
“Minta pertolongan kepada Alloh dg sabar dan mengerjakan sholat.”
Dan inipun yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS ketika harus menerima kenyataan bahwa istri tercintanya Sarah diambil oleh orang2 penguasa Mesir dipisahkan darinya.
Apa yg dilakukan Nabi Ibrahim as? Apakah beliau menghubungi manusia? tidak.. beliau langsung mengerjakan sholat 2 raka’at salam, dua raka’at salam, dua raka’at salam, sehingga Sarah tidak bisa dijamah oleh penguasa Mesir tersebut.
Ini adalah resep Nabawi, resep untuk orang2 beriman, yaqin bahwa Alloh mampu menolong kita.
Kerjakanlah sholat dekatkan diri kpd Alloh, bkn justru dekat kpd manusia ketika kita sedang mendapatkan masalah.. atau sdg menginginkan sesuatu..
#Maka dekatlah kpd Alloh swt dg sholat
hadis Nabi saw
َإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَـعِنْ بِاللهِ
“Jika kita meminta pertolongan mintalah pertolongan kpd Alloh, dan Alloh menyuruh kita utk mengerjakan shalat.(HR. Imam At-Tirmidzi)
Yakinlah bahwa Alloh akan menolong kita dg sholat yg kita lakukan sesuai dg sunnah Nabi saw dan dilakukan dengan penuh kekhusyu'an penuh kerendahan dan penuh pengharapan kepada Alloh.
Semoga Alloh memberikan kita kesabaran keikhlasan dan hati yang sll mengingatNYA
03 Januari 2019
Rosulullah SAW bersabda :
Hai anak muda, ingatlah selalu kepada Allah, niscaya DIA akan memelihara dirimu, ingatlah Allah niscaya engkau jumpai DIA berada dihadapanmu. Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah SWT dan apabila engkau meminta pertolongan dan mintalah pertolongan kepada Allah azza wajalla
(HR. Turmudzi)
19 Januari 2019
Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang diabadikan di dalam kitab suci Al-Qur’an :
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
. “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang senantiasa mendirikan salat, Wahai Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim : 40).
Beberapa trik atau cara yang semoga ia bisa menjadi jalan keluar dan bentuk usaha dari kita setelah berdoa :
1. Ucapkan kata-kata yang lemah lembut.
2. Usaplah punggung dan kepalanya
Biarkan ia tertidur sebentar, kembalilah bangunkan setelah lima menit kemudian (jika memang ada keluasan waktu).
3. Nyalakanlah lampu kamar.
4. Percikkanlah air ke wajahnya jika memang masih susah dibangunkan.
5. Berikanlah kata-kata motivasi dengan membacakan beberapa dalil pendek seperti “Nak bangunlah, shalat akan menjadi cahaya di alam kubur kelak”, atau “Bangun nak, tidak ada pilihan kelak kecuali surga dan neraka”.
6. Singkap selimutnya lalu goncangkan badan si anak dengan pelan-pelan.
Jika anak sudah mulai membuka mata, ajaklah si anak bercanda.
Ikutilah si anak jika sudah bangun supaya ia tidak tidur di lokasi yang lain.
7. Jika semua cara telah ditempuh namun belum berhasil maka kita sebagai orang tua boleh melakukan pemukulan jika si anak sudah menginjak usia sepuluh tahun.
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
.
مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.” (Dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Irwa’u Ghalil : 247).
Wallahu A'lam
12 Februari 2019
Rosulullah SAW bersabda :
Malulah kalian terhadap Allah dengan sebenar-benarnya. Barang siapa merasa malu terhadap Allah dengan sebenar-benarnya maka hendaklah ia memelihara kepala dan apa yang terdapat padanya, dan hendaknya ia memelihara perut dan apa yang ada dikandungnya serta hendaknya ia mengingat mati dan kefanaannya. Barang siapa yang menginginkan pahala akhirat maka tinggalkanlah perhiasan kehidupan dunia. Barang siapa yang mengerjakan hal tersebut maka ia benar-benar merasa malu terhadap Allah (HR: Turmudzi)
14 Februari 2019
Pilar pertama adalah memilih istri yang shâlihah. Itu menunjukkan bahwa buku ini secara khusus ditujukan untuk kaum pria. Meskipun demikian, dapat pula ditujukan untuk kaum wanita dengan menggantinya menjadi “jadilah wanita/ibu yang shâlihah”. Menurut Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, “… ia akan menjadi penolongmu dalam mendidik, mengajarkan adab mereka (anak-anak) dan mengasuh mereka dengan pengasuhan yang baik. … ia tidak akan membahayakan agama dan akhlak mereka.” Dengan demikian, ibu yang shâlihah adalah pendidik yang baik dan tidak akan membahayakan agama dan akhlak anak.
Pilar kedua adalah mendoakan anak. Jika sebelum kehadiran anak, berdoa agar dianugerahi anak shâlih. Adapun setelah kehadiran anak; berdoa agar anak senantiasa diberi petunjuk, kebaikan, dan teguh di atas agama.
Pilar ketiga adalah memberi nama yang baik untuk anak. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr memberikan contoh, “Seperti engkau menamainya dengan Abdullah, Abdurrahman, Muhammad, Shalih, dan semisalnya nama-nama baik yang dapat mengingatkannya dengan ikatan kebaikan dan ibadah serta hal yang terpuji.” Beliau selanjutnya berpendapat bahwa “Sepantasnya orang tua menjelaskan kepada anak arti dari namanya, ….” Berdasarkan itu, dapat dikemukakan bahwa nama yang baik adalah nama yang dapat mengingatkan anak pada hal-hal yang terpuji.
anak-anaknya. Tidak berbuat adil akan menimbulkan hasad yang menyebabkan permusuhan dan berujung terputusnya tali silaturahmi (shilaturrahim) di antara mereka. Anak pun bisa mendurhakai orang tua.
Pilar kelima adalah berlemah lembut kepada anak. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr menjelaskan maksudnya, “Bergaul dengan mereka penuh kasih sayang dan kebaikan. Waspada dan jauhilah sikap keras, kejam, dan antipati.” Sikap tersebut menyebabkan kecintaan dan kedekatan anak kepada orang tua sehingga orang tua mudah mengarahkan anak pada kebaikan. Begitu pula anak, akan mudah menerima nasihat dari orang tua.
Pilar keenam adalah senantiasa memberikan nasihat. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr menjelaskan bahwa nasihat tersebut dimulai dari mengajarkan akidah, kewajiban-kewajiban Islam dan rukunnya, serta perintah-perintah syariat. Bahkan, nasihat tersebut termasuk memberikan peringatan tentang dosa-dosa besar dan seluruh larangan syariat.
Pilar ketujuh adalah menjaga anak dalam pergaulan. Menurut Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah memberikan permisalan tentang pengaruh teman kepada temannya dalam kebaikan dan keburukan. Hal itu dapat dibaca dalam sebuah hadis (hadîts) yang diriwayatkan oleh Bukhârî (No. 5534) dan Muslim (No. 2628). Oleh karena itu, Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr menasihatkan bahwa “Hendaknya para orang tua memperhatikan anak-anaknya dengan siapa mereka berteman, dengan siapa duduk-duduk di sekolah dan sebagainya. Dan selalu memantaunya.” Ditegaskannya bahwa teman pada zaman ini termasuk televisi dan ponsel pintar (smartphone). Jika tidak dipantau orang tua, bahayanya sangat besar. Anak bisa menyimpang dan berbuat mungkar (munkar).
Pilar kedelapan adalah menjadi teladan yang baik. Hendaknya perkataan orang tua tidak berseberangan dengan perbuatannya. Jika tidak, anak akan bersikap masa bodoh terhadap nasihat orang tua. Menurut para ulama–sebagaimana dikemukakan Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr–teladan dengan perbuatan lebih mengena bagi anak dibandingkan dengan perkataan.
Nah, itulah pembicaraan kecil tentang 8 Pilar Sukses Mendidik Anak. Selamat mengaplikasikan dan bertawakal. Semoga buahnya dapat dipetik di dunia dan akhirat.
11 Maret 2019